Sabtu, 18 Januari 2014




Pernah dengar SBY ? Ehm.. maksudnya bukan Susilo Bambang Yudhoyono. Tapi, "Subhanallah Banget Yaa" hehehe. Mungkin kata itu sudah populer diantara temen-temen.

Penggunaan Subhanallah ini seringkali kita gunakan untuk mengekspresikan kekaguman kita terhadap kebesaran Ilahi. Di lain pihak, saat kita melihat sesuatu yang buruk, acapkali  kita mengucapkan “Masya Allah..ko bisa sih begitu?”. Ekspresi semacam itu sudah lumrah banget di mata kita, orang Indonesia.

Tapi cobalah bertemu dengan muslim di negara lain. Kalau bisa mungkin bercakap-cakap (yakali dis, kalo bisa bahasanya). Seperti pengalaman Moh. Fauzil Adhim atau yang lebih dikenal dengan (et)kupinang di twitter,saat berkesempatan untuk bercengkrama dengan muslim asli Arab. Maksud hati memuji, tapi tanggapan yang didapatkan justru sebaliknya.
“AstaghfiruLlahal ‘Adhim; ‘afwn Ustadz; kalau ada yang bathil dalam diri & ucapan ana; tolong segera Ant luruskan!”
Kira-kira seperti itu tanggapannya. Nah loh, kenapa bisa gitu? Yuuk kita lihat harfiahnya satu per satu.
Subhanallah, terdiri dari kata Subhan dan Allah. Kata Subhan sendiri asal katanya adalah sabh, yang berarti tidak tercampuri.
Subhanallah, Maha Suci Allah. Nah, kapan kira-kira kita harus mengingatkan diri kita, berdzikir bahwa Allah Maha Suci, bahwa Allah satu-satunya Dzat yang terbebas dari segala khilaf yang tercela?
Sedangkan mengenai Masya Allah.  Untuk mengetahui artinya, ada baiknya kita tengok arti dari sebuah ayat:

“Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu “MAASYAA ALLAH, LAA QUWWATA ILLAA BILLAH (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan.”
(QS. al-Kahfi 18:39)

Ya, jika diterjemahkan, Masya Allah kurang lebih berarti Allah Maha Berkehendak. Pertanyaannya adalah, apakah ketika kita melihat sebuah keburukan atau musibah terjadi, “sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud” merupakan ekspresi yang tepat?

Entah sejak kapan salah kaprah ini bermula. Yang jelas, saat kita telusuri lagi maknanya, kita akan menemukan betapa tidak pas penggunaan dua frase ini di Indonesia. Sebenarnya, salah kaprah ini pun sudah banyak yang mengulas. Tapi tentu baru terasa impact-nya kalo kita meluruskan ‘salah kaprah’ ini ke dalam kehidupan sehari-hari. Semoga kita terlindung dari ketidaktahuan yang menyesatkan :)

0 komentar:

Posting Komentar